Senin, 07 September 2020

Tugas bahasa indonesia

 koverensi cerita sejarah

Konversi adalah perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Mengonversi teks cerita sejarah menjadi teks monolog berarti mengubah teks cerita sejarah menjadi bentuk teks monolog dengan tetap memperhatikan poin-poin penting dari teks tersebut.
      Adapun teks cerita sejarah adalah teks yang menjelaskan fakta-fakta mengenai peristiwa di masa lalu yang memiliki nilai-nilai kesejarahan. Teks tersebut berisi latar belakang atau asal-muasal terjadinya suatu peristiwa penting yang terjadi di masa silam. Peristiwa tersebut disebut memiliki nilai kesejarahan karena mengandung pelajaran dan pendidikan bagi orang-orang di masa kini dan masa mendatang. Sebagaimana pada umumnya suatu teks, teks cerita sejarah juga dapat dikonversi ke bentuk yang lain, misalnya teks monolog.
      Monolog adalah teks yang berisi pembicaraan dengan diri sendiri. Dalam teks monolog, hanya terdapat satu tokoh yang berbicara. Kata ganti yang biasanya digunakan adalah kata ganti orang pertama, yaitu saya atau aku. Teks monolog dapat dipentaskan menjadi drama monolog. Dengan perkataan lain, teks monolog yang berasal dari teks cerita sejarah adalah teks yang menceritakan kembali cerita sejarah dengan bahasa sendiri.

Langkah langkah 

Dalam mengonversi teks cerita sejarah menjadi teks monolog, langkah-langkah yang perlu ditempuh adalah sebagai berikut.
1. Membaca secara cermat teks cerita yang akan dikonversi;
2. Memperhatikan poin-poin penting dari teks cerita sejarah;
3. Menuliskan kembali teks cerita sejarah menjadi teks monolog berdasarkan poin-poin penting tersebut.
Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Konversi Teks Cerita Sejarah Menjadi Teks Monolog
Dalam mengonversi teks cerita sejarah menjadi teks monolog, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut.
1. Teks monolog harus bersifat menceritakan kembali teks cerita sejarah dengan memperhatikan poin-poin penting sebagai gagasan utama dari teks tersebut;
2. Jika terdapat tokoh atau pencerita dalam teks cerita sejarah, maka sudut pandang yang digunakan dalam teks monolog dapat diganti dengan kata ganti orang pertama, yaitu saya atau aku.
3. Bahasa yang digunakan harus singkat, jelas, dan padu sebagaimana bahasa yang digunakan dalam percakapan lisan;
4. Struktur bahasa, ejaan, dan tanda baca harus diperhatikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar